PROFIL

Asmanidar H. Zainal, S.H.

Asmanidar H. Zainal, S.H.

KEBERANIAN  dalam KESEDERNAAN

SENYUM yang selalu menghiasi wajahnya yang teduh. Busana yang santun melengkapi tegur sapanya yang ramah–mengisi kesehariannya di Gedung Pengadilan Negeri (PN) Pekanbaru. Sepintas, ia terkesan sesosok pengusaha yang lagi berurusan soal hukum.

Penampilannya yang selalu rapi, sering membuat orang salah menebak. Tebakan itu seratus persen meleset, suatu hari, pengunjung  ramai  menjejal ruangan persidangan yang mengajukan Klewang (Big Bos-nya Geng Motor) di kursi pesakitan. Saat semua mata tertuju pada seorang wanita yang bertindak sebagai pembela tunggal buat Klewang, wanita inilah si Pengacara itu. Seorang wanita cantik ibu dari tiga anak.

Sebagian advokat malah sering juga heran. “Aku salut dengan kakak ini. Seorang wanita yang lembut tetapi menangani perkara-perkara besar dan ‘berat’. Masalah-masalah pidana pula,” komentar seorang pria yang juga pengacara, menunjuk ke Asmanidar, suatu hari,  di PN Pekanbaru.

Asmanidar  H. Zainal, S.H., terlahir dari pasangan H. Zainal dan Dariam di Desa Padangsawah, Kampar Kiri, 28 Desember 1972. Anak ke-5 dari enam bersaudara. Keluarga yang sederhana. Kesederhanaan yang melahirkan cita-cita untuk berjuang ke kota. Semenjak tamat SD Asmanidar melanjutkan pendidikannya ke SMP dan SMA di Pekanbaru. “Kondisi ekonomi orang tua mengharuskan saya bekerja setamat SMA tahun 1991,” ujar wanita yang juga Qori’ah semasa SMA itu.

Baru sebulan bekerja sebagai sekretaris di Kantor LBH (Lembaga Bantuan Hukum) Tri-Sula Pekanbaru, justru Asmanidar ketemu jodoh. “Seperti halnya rezeki yang menjadi urusan Allah, jodoh sangat rahasia sekali,” katanya mengenang, saat pertama kali ketemu pria pilihannya, yang kala itu bekerja sebagai reporter di satu-satunya media cetak terbitan Pekanbaru.

Menikah  tanggal 30 Desember 1991. Status sebagai istri membuatnya fokus di rumah. Dia, semata-mata mengabdikan diri dalam rumah tangga. Ternyata, tuhan selalu punya rencana yang terbaik. Setelah dikarunia dua anak, Asmanidar kembali ke bangku pendidikan tahun 1996. Kuliah di Fakultas Hukum, Universitas Islam Riau, Pekanbaru menjadi pilihannya. “Saat itu, saya belum bercita-cita menjaid pengacara. Tetapi, saya memang menyukai masalah-masalah hukum,” tuturnya.

Dengan tiga status: istri, ibu rumah tangga sekaligus mahasiswa, perkuliahan dijalaninya dengan susah payah. “Malah, tengah mengandung anak yang ke-3, saya sedang kuliah,” ungkapnya. Di sisi lain, karir suaminya sebagai wartawan terus meroket. Setelah terpilih menjadi satu-satunya wartawan untuk wilayah Riau di Majalah FORUM Keadilan, Jakarta, suaminya dipercaya sebagai Pemimpin Redaksi Surat Kabar Harian Media Riau.

“Namun, seperti saya bilang tadi, garis hidup seseorang telah ditentukan Tuhan,” ujarnya seraya bercerita tentang perkuliahannya yang sempat tersendat karena kesibukannya di bidang  bisnis. “Saya sempat menjadi manager perusahan kosmetik Amerika, di Pekanbaru,” tukasnya. Sampai kemudian bersama suaminya dia mendirikan Lembaga Pendidikan Wartawan Pekanbaru Journalist Center tahun 2007, kuliah Asmanidar tak jua rampung.

Tahun 2008 suaminya memberi ultimatum: perkuliahan mesti diselesaikan. Seperti kata pepatah: There is a will This is a way. Asmanidar di wisuda tahun 2008. Menariknya, begitu diwisuda, Asmanidar langsung menangani perkara layaknya pengacara yang sudah sangat berpengalaman. “Malah, saya diminta seorang pengusaha untuk menagih piutangnya kepada istri seorang perwira tentara. Yah.., saya jalani dan sukses!” katanya. Lantas,  cita-cita menjadi pengacara mulai tumbuh di benaknya.

Semenjak saat itu pula–seirama dengan keabsahannya sebagai advokat juga langsung diperjuangkannya–berbagai perkara pun ditanganinya. Anehnya, kebanyakan perkara yang ditanganinya justru masalah-masalah tindak pidana “berat” yang sebagian besar pengacara, tampaknya kurang tertarik menaganinya. “Saya juga tidak tahu: kenapa? Tetapi, terus terang saya memang tertarik membela orang-orang kecil yang tertindas,” tuturnya.

 

Asmanidar bersama suami dampingi ultah putranya

Asmanidar bersama suami dampingi ultah putranya

 

Nama Asmanidar sebagai advokat sontak populer saat dia menjadi pembela “pembunuhan gigi palsu” dengan terdakwa Jhony Tampubolon. Kasus pembunuhan yang dipicu motif spele. Karena Jhony tersinggung dengan  temannya (korban) tak mau menunggu ketika gigi palsunya tercecer—sesaat setelah mereka minum tuak, disuatu malam—di sebuah kedai pinggiran Jalan Riau, Pekanbaru. Saat itu mereka sedang menuju pulang.

Tak pelak. Jhony yang menemui temannya (Suparno) di rumah mereka di kawasan Kubang, Siak Hulu, Kampar, langsung emosi. Perkelahian terjadi. Jhony menusuk Suparno dengan pisau yang diambilnya dari kedai lontong. Pisau itu terhunjam berkali-kali. Suaparno tewas, Jhony ditangkap.

“Saya menjadi pengacara (prodeo) buat Jhony. Saya kasihan dengan Jhony, yang ternyata, adalah anak yang tidak beruntung,” kata Asmanidar sembari menceritakan panjang lebar kisah hidup Jhony dari keluarga “broken”. “Saya kira tidak ada pengacara yang tertarik membela dia. Biarlah saya,” katanya.

“Terus terang, saya sangat puas melakukan pembelaan kala itu. Padahal, jangankan honor, untuk pakaian Jhony di penjara saja saya harus mengambil pakaian suami saya. Saya berikan kepada dia. Sampai sekarang saya masih selalu mengiriminya pulsa,” tutur Asmanidar.

Tentu saja, sangat banyak anak-anak di negeri ini yang bernasib sama dengan Jhony. “Saya kira, dia juga sebagai korban dari kejamnya ‘hidup’. Ini yang membuat saya terpanggil,” tambahnya.

Kepedulian itu, ternyata berbuah ganda, manakala seorang pendeta dari gereja (Jhony juga jemaat gereja itu) datang menawarkan jasa untuk membantu Asmanidar. Si Pendeta itu menulis surat ke Majelis Hakim untuk menyentuh hati hakim guna meringankan hukuman Jhony. “Ini menggetarkan hati,” ungkap Asmanidar. Tentunya, cinta dalam bentuk perhatian yang tulus, tidak berbatas pada suku dan agama.

“Saya terharu sekali. Karena Pak Pendeta juga menawari saya mobil transportasi ke Pengadilan Negeri Bangkinang, saat persidangan,” katanya. “Tetapi, yang cukup berperan yah, surat Pak Pendeta itu,” tambahnya.

Inti surat itu, memberitahu majelis bahwa Jhonny selama ini adalah anak baik-baik. Memang Tuhan maha kuasa, Jhonny hanya dihukum 9 tahun penjara. Padahal, sebelumnya jaksa menuntut Jhony 15  tahun penjara. “Sebagai seorang ibu, saya banyak belajar dari kasus ini,” kata Asmanidar dengan butiran air di sudut matanya.

Saat tampil sebagai pembela Klewang, wajah Asmanidar selalu menghiasi layar kaca media televisi. Juga di halaman-halaman surat kabar, tentunya. Dari 15 orang pengacara sedianya yang akan membela Klewang, empat belas di antaranya mundur. “Saya bertahan berkat dorongan dari putri saya,” katanya.

Asmanidar yang kini banyak menangani kasus-kasus narkoba dan kasus asusila itu, mengakui ketiga anaknya cukup memengaruhi kariernya. “Mereka sepenuh hati mendukung saya. Itu yang membuat saya kuat,” cetusnya. “Terlebih lagi dengan motivasi dari suami yang selalu mengkhawatirkan saya—jangan sampai menodai profesi. Suami saya selalu menekankan pentingnya integritas. Saya sangat menghormatinya,” ungkap Asmanidar.

Di tengah hiruk-pikuk glamournya kehidupan para advokat kini, ternyata Asmanidar memendam cita yang bersahaja. “Sebagai seorang advokat yang terus memerankan misi profesi, saya ingin hidup kaya & berkecukupan. Tetapi, tidak harus bermewah-mewah. Islam melarang kita miskin tetapi juga melarang kita hidup mewah. Kaya tetapi sederhana. Itulah permohonan saya kepada Allah,” ungkapnya lirih.

Di rumah, ia terus disibuki pekerjaan tanpa pembantu: menyapu menyuci dan mengurusi anak-anaknya. “Kesibukan ini yang membuat saya bahagia,” pungkasnya.

Kesederhanaan, memang masih menjadi jati diri yang melakat di jiwa wanita pengagum Film: Long Ford ini. Berkantor di rumah.  Ia tampak selalu “pede” berurusan sendirian ke mana-mana. Ke instansi pemerintah atau ke kantor kejaksaan dan kantor polisi. Juga ke rumah tahanan atau ke penjara mengunjungi kliennya. Suatu hari seorang perwira polisi di Mapolda Riau sempat berujar:

“Aku heran nengok Ibu. Berani sendirian ke mana-mana.  Tidak seperti pengacara lain. Datang ke sini ber-rombongan. Walau urusan mereka hanya sekadar menanyakan surat, hehehe,” celutuk Opsir Reserse Khusus itu. Mendengar  itu Asmanidar hanya menjawab singkat: “Justru ke kantor polisi saya lebih berani ketimbang ke sarang penyamun…”.

Hidup sederhana berani dalam berkarya. Motto hidup yang dipegang Asmanidar. “Kecintaan akan pekerjaan dan berbuat baik buat sesama, dua hal yang menjamin kebahagiaan kita,” tuturnya saat ditanya tentang gaya hidup.

“Menurut saya, kekayaan itu harus membuat kita bahagia. Tentu saja akan menyiksa, jika harta yang didapat bukan dari jalan yang halal,” katanya berpalsafah. (set)

Curiculum Vitae

  • Nama                    :  Asmanidar. H. Zainal, S.H.
  • Tempat Lahir      :  Padangsawah, Kamparkiri
  • Tanggal Lahir      :  28 Desember 1972
  • Pekerjaan           :  Advokat/Pengacara
  • Jabatan                :  Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Kerakyatan.
  • Pendidikan         :  Sarjana Hukum (Fak. Hukum UIR).

KELUARGA

Suami              

  • Nama                    :  Wahyudi El Panggabean
  • Pekerjaan            :  Wartawan/Dosen
  • Jabatan                :  Direktur Pekanbaru Journalist Center

Anak 

  •  Gemal Abd. El Nasser Panggabean (Wartawan/Sarjana Hukum)
  • Witari El Triarni (Mahasiswi Psikologi)
  • Esi El Star Revolusi (Mahasiswi Fak. Hukum Universitas Andalas)