PEKANBARU JOURNALIST CENTER

Semangat Siswa Privat PJC

IMG_2659

JIKA passion (gairah) sudah ketemu, yang ada hanya satu kata: Semangat! Itulah yang dibuktikan siswa Lembaga Pendidikan Wartawan Pekanbaru Journalist Center (PJC) dalam kelas privat, kali ini. Malah, belajar full nyaris sebulan penuh saat Ramadhan.

IMG_2653

Dari kiri: Antoni, Prengki dan Zaiful. Novi (duduk)

Padahal, 3 dari 5 siswa privat kali ini, justru harus mengikuti kuliah “Semester Pendek” mereka di Fakultas Hukum, Universitas Islam Riau (FH-UIR) Pekanbaru. “Target kami, harus wisuda di Bulan Oktober mendatang,” kata Zaiful Azim (24). “Alangkah baiknya, sebelum wisuda kami sudah memiliki bekal ilmu jurnalistik,” timpal Antoni Christoper Sinaga (22).

Namun, bagi Prengki Panggabean (23), privat jurnalistik harus mampu menjembataninya ke cita-citanya, kelak. “Saya dari dulu bercita-cita menjadi pengacara. Saya kira, jurnalistik tangga yang tepat,” katanya. Zaiful Azim, Antoni Christoper Sinaga dan Prengki Panggabean, kini tengah duduk di bangku Semester VIII FH-UIR.

“Semata mengandalkan ijazah sarjana, saya kira sulit berkompetisi di dunia kerja,” ujar Zaiful yang bercita-cita jadi pengusaha itu. “Makanya, kami harus terus serius dan bersemangat belajar di PJC,” katanya. Antoni dan Zaiful memang bercita-cita menjadi pengusaha. “Toh jurnalistik bisa menjadi tangga ke sana,” kata Antoni.

Selain mereka ada Novi Kawandi (25) dan Mastiar Mendrofa (44) yang juga ikut dalam kelas privat. Hanya saja Mastiar yang lebih dulu masuk (awal Mei 2016) selama Ramadhan memilih cuti belajar. “Saya sibuk mengurusi organisasi buruh di Pangkalan Kerinci,” kata Mastiar yang selama ini memang sudah bekerja sebagai wartawan. “Saya belajar privat di PJC untuk memperdalam ilmu jurnalistik dan penyempurnaan skill menulis berita,” katanya.

IMG_2423

Mastiar Mendrofa

Novi Kawandi, yang masih tercatat sebagai mahasiswa Ekonomi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN-Suska) Pekanbaru itu, sudah bekerja sebagai operator mesin percetakan salah satu surat kabar harian di Pekanbaru. “Tentu saja, saya tidak ingin selamanya di belakang mesin cetak koran,” kata Novi yang bercita-cita menjadi politisi dan anggota legislatif itu. “Profesi wartawan saya harap akan mengantar saya ke gedung dewan,” katanya.

Begitulah. Setiap hari mereka digembleng secara intensif oleh dua instruktur: Drs. Elwahyudi Panggabean, M.H., dan Asmanidar H. Zainal, S.H.. “Saya ditulari semangat belajar mereka. Saya jadi lebih bersemangat. Apalagi, mengajar para calon sarjana lebih sreg. Karena nyambung,” kata Asmanidar pengajar mata kuliah Hukum Pers dan Teknik Wawancara.

Sepekan menjelang Hari Raya Idul Fitri mereka berlibur. “Usai lebaran, mereka akan menjalani pemagangan di www.majalahfbi.com. Mereka magang sambil belajar teori,” kata Direktur PJC, Elwahyudi Panggabean. “Mereka harus serius belajar dalam kurun waktu 2 bulan penuh. Keseriusan tanggung jawab mereka. Tanggung jawab saya menjadikan mereka wartawan siap pakai,” katanya. ***

PJC, Sebuah Misi

 

12867_102220919803140_3218479_n

Lembaga Pendidikan Wartawan Pekanbaru Journalist Center (PJC) adalah satu-satunya Lembaga Pendidikan Wartawan di Riau yang secara konsisten menjalankan program pendidikan jurnalistik. Sejak didirikannya empat tahun silam (April 2007) PJC telah mendidik sekitar 300 orang siswa dari berbagai latar belakang, dan kini sebagian besar dari mereka sudah bekerja diberbagai media. Baik media terbitan daerah Riau sendiri maupun media terbitan ibu kota.

Provinsi Riau sebagai daerah yang mengalami perkembangan sangat pesat termasuk di dalamnya perkembangan serta pertumbuhan pemerbitan pers. Menurut data Dewan Pers, Provinsi Riau adalah provinsi yang mengalami pertumbuhan penerbitan pers tertinggi dibanding provinsi lain di Indonesia. Tercatat ada 60 media massa harian dan mingguan serta majalah yang terbit di Riau.

Ditambah lagi media elektronik seperti televise, radio, dan media-media online yang jumlah sangat banyak. Kesemua media-media tersebut tentunya membutuhkan skill dan SDM yang handal di bidang journalist. PJC tidak hanya mendidik para siswanya menjadi wartawan profesional semata, tetapi juga mengusung misi:

 “MENDIDIK WARTAWAN PROFESIONAL DAN MEMILIKI INTEGRITAS”

Lembaga Pendidikan Wartawan Pekanbaru Journalist Center (PJC)–sebagai institusi pendidikan wartawan–jauh – jauh hari telah merancang dan merencanakan serangkaian kegiatan kongkrit, kreatif dan menyentuh kepentingan regional dan  nasional guna meningkatkan kualitas wartawan di Riau.

Kegiatan dimaksud, tentu saja mengacu kepada peningkatan peran serta PJC sebagai institusi pembinaan dan pendidikan jurnalis, untuk menyentuh berbagai aktivitas masyarakat Riau umumnya yang beriorientasi peningkatan kreativitas, kepedulian pada aspek sosial masyarakat khususnya mendukung program peningkatan kualitas pers, mendukung pemberantasan kemiskinan, kegiatan olahraga serta problema pendidikan, hukum dan juga masalah hak asasi manusia.379858_2009629659834_2071825896_n (1)

VISI

Memberikan pendidikan jurnalistik yang berorientasi pada Wartawan Profesional dan Memiliki Integritas.

MISI

  1. Mendukung program pemerintah dalam meningkatkan mutu SDM, terutama di bidang jurnalistik
  2. Meningkatkan kwalitas media massa khususnya pers yang terbit di Riau.
  3. Mendukung pers menjadi sumber inpormasi yang jujur dan berimbang bagi kepentingan masyarakat.

Untuk mendukung realisasi semua kegiatan, visi dan misi tersebut, PJC mengadakan program pendidikan yang berkesinambanugan setiap tahunnua. Program pendidikan dimaksud adalah sbb:

PROGRAM PENDIDIKAN

Masa belajar setiap periode yakni 4 bulan, dengan pembagian:; dua bulan pertama belajar teori di dalam ruangan (32 kali pertemua) dan dua bulan selanjutnya praktek atau magang di media-media terbitan Pekanbaru.

–          Dalam satu tahun progrma belajar regular ada 3 periode.

–          Selain itu ada juga program percepatan dan program privat

FASILITAS

Raung belajar full AC, Labor komputer, Perpustakaan Jurnalistik, Tiga buku paket.

TENAGA PENGAJAR

Tenaga pengajar terdiri dari wartawan yang sudah berpengalaman baik dari Riau sendiri dan dari Jakarta. Dengan dua tenaga pengajar inti yang bertanggungjawab penuh terhadap jalannya program pendidikan. Selain itu ada pengajar tambahan seperti tenaga khusus ciber jurnalist, dan bidang kehumasan.

III. MATERI PENDIDIKAN

           Materi pendidikan jurnalistik ini yang dianggap penting untuk diajarkan adalah sbb:

 1. Pengenalan Dunia Jurnalistik

      Materi ini mesti diajarkan secara historis dan pilosofis, tentang apa sesungguhnya makna dan manfaat kinerja jurnalisme. Serta apa hubungannya dengan ilmu sosial.  Dengan pemahaman akan manfaat jurnalsme dalam kehidupan, peserta akan tergugah menekuni kinerja jurnalistik. Pengenalan akan fungsi jurnalisme secara hakiki inilah yang mendasari semua tugas-tugas kewartawanan.

2. Kode Etik dan Etika Profesi

       Belajar tentang kode etik jurnalistik, berarti berbicara tentang moral. Dalam profesi wartawan moral harus menjadi pengawal yang agung dalam 24 jam bertugas. Etika merupakan hal penentu dalam prosesi kinerja jurnalisme. Dengandemikian kode etik harus diajarkan secara utuh, menjelaskan pasal per pasal berikut cotoh-contoh penerapan dan pelanggrannya. Etika merupakan hal paling krusial yang menjadi sorotan masyarakat saat ini. Dalam pelatihan ini, kode etik jurnalistik merupakan materi pelajaran yang sangat vital.

3. Hukum Pers.

         Materi pelajaran Hukum Pers, berkaiatn erat dengan Kode Etik Jurnalistik.  Hukum Pers menyangkut aspek hukum, dan pelajaran untuk menghindari terjadinya delik pers. Tujuannya, agar wartawan senantiasa terhindar dari jerat hukum, yang dalam kinerja jurnalisme, sesungguhnya sangat rentan. Untuk itu, dalam pelajaran Hukum Pers, peserta akan dilatih membuat  Hak Jawab, Hak Koreksi dan cara meladeninya. Sampai prosedur pengajuan ke Dewan Pers.46757_1256754718431_548911_n (1)

4. Strategi Menembus Narasumber

       Materi  ini, merupakan materi pelajaran khas dari PJC. Banyak pihak yang tidak menyadari fungsi pelajaran ini. Padahal, ”menembus” narasumber salah satu link yang sangat menentukan dalam proses perburuan informasi oleh wartawan. Ilmu ”menembus” narasumber harus dimiliki wartawan. Dalampelatihan inipeserta dibekali materi ini dengan ”doktrin” dari instruktur.

 5. Teknik Wawancara

      Wawancara salah satu cara memeroleh informasi bagi wartawan. Informasi bisa diperoleh jika pewawancara memiliki teknik wawancara yang baik. Pelatihan ini, menerapkan  latihan dengan masing-masing peserta dilatih ber-wawancara. Sebelum latihan, materi pelatihan disampaikan instruktur berupa teori dilanjutkan dengan latihan berbicara untuk mengasah mental. Baru kemudian dilatih  melakukan wawancara.

 6. Menulis Berita dengan Bahasa Pers

      Mesti diakui. Saat ini, salah satu persoalan  pers kita, saat ini, justru lemahnya penggunaan struktur tulisan dalam berita serta penggunaan Bahasa Pers. Untuk itulah, pelatihan ini dalam mengajarkan Menulis Berita sekaligus mempelajari Bahasa Pers karena memang saling berkaitan. Latihan menulis dilaksanakan seefektif mungkin. Pelatihan diberikan kepada masing-masing peserta  seharian penuh. Dengan evaluasi intensif di akhir pelatihan.

7. Teknik/Menulis Reportase

         Teknik berikut menuliskan reportase, merupakan suatu pendalaman materi berita jurnalistik yang sangat dibutuhkan media, saat ini. Dengan reportase, informasi akan lebih menarik, lengkap dan lebih mendalam dibanding  berita spot news. Untuk itulah, materi ini harus diajarkan dengan waktu yang cukup dan latihan yang intensif. Mulai dari teknik pengusulan berita, pembuatan TOR (Therm Of Refeerency) sampai kepada teknik penulisannya. Teknik/ Menulis Reportase juga membutuhkan waktu pelatihan sehari penuh.

8. Teknik Memotret

     Teknik Memotret untuk kepentingan poto pendukung dalam berita jurnalistik, tentu saja tidak sama dengan teknik memotret para juru foto. Foto jurnalistik lebih mengutamakan sisi “news” agar—sebagai foto pendukung— gambar yang dihasilkan benar-benar bernilai berita. Teknik Memotret dengan nilai jurnalistik itulah yang diajarkan di pelatihan ini.

        Dengan mempelajari  8 (delapan)  bidang keilmuan tersebut peserta siap menjadi wartawan profesional dan memiliki integritas.

     

 

Drs. Wahyudi El Panggabean, M.H. 

            Direktur  PJC

BIOGRAFI WAHYUDI EL PANGGABEAN, DIREKTUR PJC

Wahyudi El Panggabean, lahir di Batangtoru, sebuah kecamatan paling utara di Tapanuli Selatan, 9 Mei 1964. Ayahnya, Ali Hotma Panggabean (almarhum), semasa hidupnya bekerja sebagai pedagang dan aktivis organisasi Muhammadiyah di Tapanuli, Ibunya, Hj. Nurhamidah Siregar (almarhumah), mantan guru di Perguruan Taman Siswa.

Drs. Wahyudi El Panggabean

Drs. Wahyudi El Panggabean, M.H.

Anak kelima dari sepuluh bersaudara ini mulai tertarik dengan dunia jurnalistik sejak masih duduk  di bangku kelas II SMP, Kala itu ia tengah mendengar penjelasan guru bahasa Indonesia, Munawir Zen Pulungan, tentang tugas-tugas seorang wartawan. Semenjak itu, hasrat menjadi wartawan mulai tumbuh sebagai cita-citanya, namun masa itu bukan jalan menuju dunia jurnalistik yang dirintisnya. Ia malah belajar menekuni ilmu menjahit pakaian selepas waktu sekolah.

Profesi menjahit ini, ternyata bukan hanya menjadi penopang biaya hidup dan pendidikannya, juga menjadikannya sebagai guru bagi beberapa orang yang ingin belajar menjahit pakaian. Profesi menjahit juga menjadi bukti kemandiriannya karena menyadari keuangan orang tuanya yang masa itu nyaris tak mampu membiayai pendidikannya. Wahyudi sempat menganggur setamat SMP, karena tidak berhasil lolos di SMA Negeri 2 Padangsidempuan.  Meski ia sempat masuk SMA swasta di Batangtoru selama satu semester, sekolah itu pula yang keburu tutup. Namun, ia tidak putus asa. Setelah menganggur setahun sembari memperdalam ilmu menjahit, tahun berikutnya ia kembali mendaftar di SMA tempat ia pernah gagal. Kali ini, ia lolos. Profesi menjahit dan mengajar beberapa orang tetap dijalaninya selepas sekolah.

Setamat SMA, 1984, berkat dorongan yang sangat kuat dari ayahnya, Wahyudi mencoba tes ke perguruan tinggi di Pekanbaru dengan pilihan kesatu, Kedokteran USU dan pilihan kedua Biologi di UNRI. Ia menumpang dirumah kakak sulungnya, Erni Helmida, yang berprofesi sebagai guru, dan suaminya Martua Muda Harahap, seorang wiraswastawan. Ternyata, Wahyudi hanya berhasil menyabet pilihan kedua. Kesulitan hidup dan kewajiban Wahyudi El Panggabean, lahir di Batangtoru, sebuah kecamatan paling utara di Tapanuli Selatan, 9 Mei 1964. Ayahnya, Ali Hotma Panggabean (almarhum), semasa hidupnya bekerja sebagai pedagang dan aktivis organisasi Muhammadiyah di Tapanuli, Ibunya, Hj. Nurhamidah Siregar (almarhumah), mantan guru di Perguruan Taman Siswa.

Anak kelima dari sepuluh bersaudara ini mulai tertarik dengan dunia jurnalistik sejak masih duduk  di bangku kelas II SMP, Kala itu ia tengah mendengar penjelasan guru bahasa Indonesia, Munawir Zen Pulungan, tentang tugas-tugas seorang wartawan. Semenjak itu, hasrat menjadi wartawan mulai tumbuh sebagai cita-citanya, namun masa itu bukan jalan menuju dunia jurnalistik yang dirintisnya. Ia malah belajar menekuni ilmu menjahit pakaian selepas waktu sekolah.

Profesi menjahit ini, ternyata bukan hanya menjadi penopang biaya hidup dan pendidikannya, juga menjadikannya sebagai guru bagi beberapa orang yang ingin belajar menjahit pakaian. Profesi menjahit juga menjadi bukti kemandiriannya karena menyadari keuangan orang tuanya yang masa itu nyaris tak mampu

menyelesaikan studi di perguruan tinggi, membuatnya harus bergumul dengan berbagai pekerjaan, termasuk sebagai buruh. Hingga tahun 1985 ia menerima kabar, harian Berita Yudha Jakarta berencana membuka perwakilan di Riau dan memberi kesempatan bagi peminat untuk dididik dan direkrut menjadi wartawan.

Wahyudi yang sudah memendam hasrat cukup lama, tidak membuang kesempatan. Dalam pendidikan itu, ia bertemu dengan Endang Achmadi, Wakil pemimpin Redaksi Berita Yudha yang datang dari Jakarta. Ketertarikannya pada dunia jurnalistik kian membara saat para pengajar di acara itu benar-benar memberi motivasi dan semangat. Selepas pendidikan kilat itu, Marganti Manaloe, salah seorang pengajar dan orang yang diutus mempersiapkan perwakilan Berita Yudha di Riau, telah mendoktrin Wahyudi dan rekan-rekan lain yang terdiri dari anak-anak muda.

Kuliah terus berjalan, belajar wartawan juga mesti dijalani. Ternyata, hasilnya bisa memadai. Wahyudi sudah mulai menulis di media massa dan menjadi wartawan freelance di berbagai media: Genta (Pekanbaru); Sinar Tani (Jakarta); Swadesi (Jakarta); Eksponen (Yogyakarta). Manaloe kemudian menganjurkan Wahyudi bergabung dengan SKK Bahana Mahasiswa Universitas Riau,1988. Masa itu pelajaran teori di FKIP UNRI hampir rampung.

Di Bahana Mahasiswa, meski hanya aktif sekitar 20 bulan, Wahyudi bisa memberi peran dan banyak belajar di surat kabar bulanan itu. Sejak 1988 pula, Wahyudi terus menulis di media, seperti Mimbar Umum dan Demi Masa (Medan) serta majalah kriminalitas FAKTA, terbitan Surabaya. Dua tahun kemudian, atas dorongan ayahnya juga, Wahyudi mengikuti ujian sarjananya yang telah tertunda setahun.

Tanggal 30 juni 1990, ia meraih gelar doktorandus, setelah mempertahankan skripsinya berjudul: Studi Komparatif Hasil Belajar Mahasiswa antara Metode Belajar Ceramah dan Metode Diskusi pada mata kuliah Evolusi di Program Studi Biologi FKIP UNRI. Meski hanya dengan predikat memuaskan, ia merasa bangga. Sebab, sebelumnya Dekan FKIP UNRI Drs. Raja Samad sudah menganjurkan

agar ia tidak usah saja menulis skripsi, mengingat IPK Wahyudi 2,5. Sementara yang diwajibkan menulis skripsi hanya mahasiswa yang ber-IPK di atas 3,0. Itu pun banyak diantara mereka yang membuat surat permohonan agar tidak ikut menulis skripsi, tetapi langsung saja ujian.

Wahyudi sebaliknya: ia harus membuat surat permohonan dan pernyataan sanggup menulis skripsi, meski IPK jauh di bawah standar. Ternyata dia berhasil. Soal ini dia berkomentar, “Saya kira, sarjana itu dibuktikan dengan skripsinya. Jika sarjana tanpa skripsi, kayaknya kurang pas”.

Setelah meraih gelar sarjana, ia sempat bolak-balik Batangtoru-Kuok berbisnis bibit tanaman jeruk manis. Dua bulan ia menekuni bisnis ini, pertemuannya di UNRI dengan Drs. Sahid Suhil Achmad, seorang staf pengajar FKIP UNRI dan juga redaktur SKM Genta adalah awal kariernya disurat kabar tertua terbitan Riau itu. Sahid langsung menawari Wahyudi bekerja sebagai reporter di SKM Genta.

Wahyudi yang sebelumnya ditolak LKBN Antara Pekanbaru karena tak memiliki sepeda motor, langsung menerima tawaran itu. Esok harinya, ia langsung menjalani pelatihan kilat. Diberi kesempatan saja waktu itu, Wahyudi sudah bersyukur. Ia berburu berita dengan jalan kaki dan naik turun oplet. Ia bekerja tanpa dibekali surat tugas dan bukti legalitas apapun. Beberapa bulan kemudian, barulah Moeslim Kawi, Pemimpin Redaksi Genta, melengkapi Wahyudi secarik surat tugas. Di Genta, kariernya cukup cemerlang. Masa itu, ia wartawan paling kreatif. Kreativitas itu pula yang mengantarnya menjabat redaktur eksekutif mingguan itu, 1992.

Tahun 1993, terjadi gejolak di Genta. Makmur Hendrik dan Edi Ruslan Pe Amanriza (almarhum) masuk, Moeslim Kawi keluar. Rekan sesama wartawan ramai-ramai pindah ke Riau Pos. Wahyudi tetap bertahan. Beberapa bulan kemudian, Wahyudi keluar dari Genta dan masuk ke Riau Pos. Ternyata, tak mendapat tempat di media itu. Tiga pekan saja ia bertahan dengan kondisi sangat sulit. Ia kemudian kembali dipanggil ke Genta. Sempat menjadi redaktur senior dan menjabat kepala biro di Indragiri Hulu dan Kampar. Akhir 1994, peristiwa pembakaran pasar Desa Pantaicermin, Kampar, menjadi berita pertamanya di majalah FORUM Keadilan, Jakarta.

Sejak saat itu, ia menjadi koresponden majalah kawakan itu di Riau. Di FORUM Keadilan dia banyak menimba ilmu lewat Karni Ilyas, Panda Nababan, Noorca M. Massardi, dan sebagainya. Tahun 1998,  bersama Jupernalis Samosir (sekarang wartawan Tempo), ia mendirikan majalah Tema di Pekanbaru. Tahun 1999, ia diminta memimpin sekaligus sebagai pendiri harian Media Riau. Dua tahun lebih ia memimpin media itu, hingga Februari 2002, ia bersama 30-an wartawan keluar dari Media Riau. Wahyudi dan rekan-rekannya, antara lain Uswatil Husna, Syofial Adjis, Pianisril, Fitra Asrirama, Kornel Panggabean, Hasnun Jauhari Ritonga dan Asmanidar H. Zainal yang juga istrinya segera mendirikan TARGET Operasi, sebuah surat kabar dwimingguan yang berkantor di garasi rumahnya. Koran ini eksis sekitar dua tahun.

Tahun 2004 merupakan tahun duka cita, karena ayahnya yang selama ini menjadi tempat bertanya baginya, meninggal dunia. September 2004, Wahyudi menerbitkan majalah FORUM kerakyatan. Tahun 2005, Wahyudi mendirikan Penerbit buku FORUM Kerakyatan dan pertama kali menulis buku biografi Drs. Marwan Ibrahim. Beberapa bulan kemudian, Wahyudi menerbitkan buku jurnalistik tentang strateginya menembus narasumber dan mengatasi konflik. Buku ini diluncurkan di Hotel Quality Pekanbaru. Tahun berikutnya, dia menulis buku lagi; Strategi Wartawan Berburu Informasi, Menghindari kekerasan.

Tahun 2008 Wahyudi melajutkan pendidikannya di Pasca Sarjana Hukum Tatat Negara Universitas Islam Riau. Wahyudi meraih gelar  Magister Hukum lewat tesisnya berjudul : Implementasi Kemerdekaan Pers dalam Perspektif UU. No 40 Tahun 1999 (Studi Kontrak Halam Surat Kabar di Riau) Tahun 2010.

September, 2011 ibundanya pula, Hj. Nurhamida Siregar,  yang dipanggil oleh Sang Khalik. Februari 2007, Wahyudi mendirikan  Lembaga Pendidikan Wartawan Pekanbaru Journalist Center (PJC). Namun, menulis buku terus berlanjut. Bersama dua buku terdahulu, buku Strategi Wartawan Meraih Integritas & Memiliki Profesionalisme menjadi buku pegangan bagi siswa di PJC.

Meski merupakan lembaga pendidikan wartawan, selain mengajarkan integritas, misi PJC adalah mendidik para siswa untuk mengenal diri mereka sendiri serta membuang rasa takut dari benak masing-masing.  Karena menurut Wahyudi, rasa takut telah membelenggu ratusan juta manusia sehingga gagal meraih impian dan cita-cita.

Buku Wartawan Berani Beretika merupakan buku kedelapan yang dia tulis. Buku ini merupakan kombinasi pengalamannya selama meliput dan mereportase berita, dipadu dengan pengalamannya mengajar di PJC dan juga sebagai pengajar mata kuliah Bahasa Jurnalistik  di Program Studi Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Islam Riau (UIR) Pekanbaru.

Selain kesibukan mengajar dan menulis buku, saat ini Wahyudi masih mengelola sekaligus meimpin Majalah FBI (FORUM Berita Investigasi).

Dari pernikahannya dengan Asmanidar H. Zainal, S.H., berprofesi sebagai advokad/pengacara. Wahyudi dikarunia tiga anak: Gemal Abd. El Nasser Panggabean (bekerja sebagai wartawan di Harian PekanbaruMX), Witari Triarni El Panggabean(kelas 2 SMU An-Nur Pekanbaru), dan Esi El Star Revolusi Panggabean yang saat ini duduk di bangku kelas 3I SMP Negeri 1 Pekanbaru.

Buku-buku buah karya Wahyudi El Panggabean:

1.Panggilan Nurani Membangun Negeri (Biografi Marwan Ibrahim) (2005)

2.Strategi Wartawan Menembus Narasumber Mengatasi Konflik (2006)

3.Strategi Wartawan Berburu Informasi, Menghindari Kekerasan (2007)

4.Strategi Wartawan Meraih Profesionalisme, Memiliki Integritas (2007)

5.Strategi Wartawan Meliput & Mereportase Peristiwa (2009)

6.Membangun Pelalawan dengan Kebersamaan (2010)

7.Etika Menyimak (Strategi Sukses dengan Menyimak) (2012)

8.Wartawan Berani Beretika (2013)

Testimoni:

WITARI EL TRI ARNI:

Saya Masuk PJC, Karena PJC Sangat Bagus

Nama saya Witari El Triarni. Saya salah seorang mahasiswa dari PJC untuk kelas privat. Aku lulusan SMA tahun 2014. Tapi, saya tak langsung memasuki perkuliahan di perguruan tinggi.Saya lebih memilih mandiri dulu. saya mencoba berbisnis kecil-kecilan. Alhamdulllah, hasilnya lumayan. Meski tak banyak, sudah cukup membuat saya paham akan kesulitan mencari uang.

Witari bersama Direktur PJC, Wahyudi El Panggabean

Witari bersama Direktur PJC, Wahyudi El Panggabean

Kemudian saya memasuki kursus dulu. Saya memilih PJC sebagai tempatku menempa mental. Belajar ilmu wartawan. Bisnis jalan juga. Kenapa saya harus memilih belajar di PJC?

Semenjak PJC ini berdiri tahun 2007 silam, saya sudah tahu lembaga ini cukup bagus. Baik dari segi metode belajarnya juga dari jam terbang instrukturnya: Pak Wahyudi El Panggabean. Itu pula yang membuat saya tertarik ikut belajar di PJC. Artinya, PJC ini, menurut saya sangat bagus.

Tetapi, saya mengutarakan alasan itu bukan karena kebetulan pemilik dan pemimpin lembaga ini  orangtua saya. Komentar ini saya ungkapkan berdasarkan pengamatan saya dari tahun ke tahun.

Satu hal yang unik menurut saya: PJC tidak semata-mata mengharap uang dari siswa/mahasiswanya. Kemudian, jika kita sudah mendaftar di PJC pengajar snagat serius mengajrinya dan moode mengajarnya sangat menyenangkan.

Lama belajar juga tidak sempat membuat bosan. Dengan hanya 4 bulan sudah termasuk praktek/magang cukup toleransi sekali dari segi waktu. Wajar jika PJC telah meluluskan hampir 300-an orang calon wartawan.

Lulusannya pun sebagian besar langsung bekerja sebagai wartawan di berbagai media di Riau. Inilah kemudian yang mendorong saya ikut belajar di PJC.Saya ingin mengikuti jejak mereka seagai insan pers. Saya yakin profesi waratwan akan menggugah mental, tekad dan keberanian mengharungi bentara kehidupan. Menuju masa depan, menggapai cita-cita sebagai orang hebat…***