BUKU

Pesan Moral dari: “Narittik Sahorong”

 

Judul     : Narittik Sahorong (Nilai-Nilai Moral dari Huta Paranpadang) Penulis : Makruf Siregar Penerbit: Zanafa Publishing (Mei 2014) Ukuran  : viii + 132 Halaman; 14 cm x 21 cm

Judul : Narittik Sahorong (Nilai-Nilai Moral dari Huta Paranpadang)
Penulis : Makruf Siregar
Penerbit: Zanafa Publishing (Mei 2014)
Ukuran : viii + 132 Halaman; 14 cm x 21 cm

Sebuah buku, buah karya Makruf Siregar,  mendeskripsikan “ke-gilaan” warga desa di masa silam. Berisi sederet gagasan kreatif  & spektakuler. Ironis, kreativitas itu, tidak  terproteksi kearifan sejarah.

SAYA merasa terhormat, memeroleh buku ini atas pemberian langsung  penulisnya: Tulang Makruf Siregar. Saya merasa senang membacanya. Kagum akan isinya, terharu atas deskripsi kisah-kisahnya.

Sepintas, buku ini, memang hanya  sederet kisah sederhana dari kawasan marginal: Huta Paranpadang. Paranpadang, sepotong nama, satu dari sekian banyak desa di Kecamatan Sipirok. Namun, saat membacanya pragmen demi pragmen, mewujud sebagai catatan masa silam, yang luar biasa.

Saya terkesima juga akan makna  fakta-fakta emfirisme kemandirian masa silam segelintir para pencatat sejarah. Malah, terus terang—membaca bagian-bagian tertentu buku ini—sudut mata saya, sempat basah oleh butiran air. Mata saya, karena keharuan, sempat berkaca-kaca.

Mungkin saja, buku yang ditulis jujur dengan gaya apa adanya, bisa tampil sebagai Hipnotic Writing. “Buku ini memaksa saya memanfatkan waktu luang untuk membacanya,” komentar saya buat istri. Syah saja, dalam tempo 30 jam buku ini rampung saya baca. Tuntas. Yang tersisa hanya maknanya…

Ketertarikan kita dengan sebuah  media bacaan—apalagi jenis  buku—salah satunya, dipengaruhi unsur “kedekatan” media itu dengan kita. Saya yang terlahir dari Batangtoru (sebuah kecamatan paling utara di Tapanuli Selatan) hanya terpaut dua gunung (Gunung Lubuk Raya & Gunung Sibualbuali)  dengan Sipirok, kawasan yang menjadi locus delicti  cerita buku ini.

Dengan bahasa yang “marpasir-pasir” (bahasa bercampur—istilah di kampung saya)—sebagian istilah, tampaknya, sengaja tidak diterjemahkan penulis, demi menjaga orisinilitasnya) acap mengundang sungging senyum di bibir.  Tentu saja, pemakaian istilah orisinil itu menjadi bagian “perekat” bagi  komunitas Batak “Selatan” serta terasa mengundang ke kampung halaman.

Padahal, meski bahasa ibu di Batangtoru hanya beda-beda tipis dengan Sipirok, masih ada istilah dalam buku ini  yang belum paham saya maknanya: Geno Pasar, Mura Tape….hehehe, contohnya.

Saya hanya meraba-raba tentang arti kata “geno” mungkin padanan dari kata longon alias sepi. Jadi, Geno Pasar, Mura Tape kira-kira pengertian saya adalah: Sepi pasar, murah tapai. (Sebenarnya saya mau bertanya via facebook saat Tulang Makruf lagi OL, tapi saya segan….hehehe).

Kusai M Yatim, editor dalam pengantarnya menjanjikan buku ini hanyalah pengabadian karya dari kisah-kisah yang mengusung pesan moral. Pesan yang pantas dijadikan wacana riil bukti “keperkasaan” daya cipta para generasi pendahulu di Paranpadang.

Ternyata, ungkapan Bung Kusai, benar adanya. Meski penulisnya dengan santun & rendah hati mengawali goresannya  di pra-wacana: Buku ini sekadar/membingkai kenangan/merangkai makna/untuk orang-orang tercinta…

Dari kata “merangkai makna” itulah, kemudian berbagai pesan moral mengemuka sebagai catatan masa silam yang monumental. Simak saja, kemandirian yang terdeskripsi pada: Lapisan Sosial Halak Paranpadang. Sampai era super-modern kini, puak dari Paranpadang, tetap merasa bangga disebut sebagai anak ni “parjagal tape” (keturunan penjual tapai). Kenapa bangga? Karena makna yang terkandung di balik sebutan itu hanyalah sepotong kata: kemandirian.

Kegigihan dan kerja keras masyarakat agraris itu telah pula mengantarkan Desa Paranpadang (tanah leluhurnya Tulang Makruf Siregar) mampu tampil sebagai penyanggah kebutuhan se-Kecamatan Sipirok khusus komoditas cabai dan ubi kayu. Lebih dari itu, Paranpadang menjadi representasi dari tapai ubi yang melegenda sampai kini. Menyebut Huta Paranpadang, pastilah persepsi orang pada tapai ubi yang lezat made in Paranpadang.

“Iihatlah, ketika hari Kamis. Datangi semua penjual tapai ubi kayu se-Pasar Sipirok. Tanya dan cari asal mereka. Jawabnya hanya satu: Paranpadang. Kajian teknisnya, tentu setiap komoditas harus didukung ketersediaan bahan baku. Paranpadang, memang penghasil ubi kayu yang andal. Tiada rumah tanpa kebun ubi kayu. Akan halnya ragi, desa Paranpadang merupakan ahlinya. Bandingkan dengan komoditas tahu dan tempe bahan bakunya berupa kacang kedelei harus diimpor dari Brazilia…”(halaman 16).

Tentang sejarah Paranpadang tampil sebagai ahli ragi tapai adalah bagian kisah unik bahasan buku ini. Keunikan yang lain, tercuat dari satu desa satu produk andalan. OVOP (One Village, One Product). Huta Baringin penghasil hudon tano (periuk dari tanah), kerajinan tenun dari Huta Suhut dan Paran Julu. Kopi dan gula enau dari Huta Bulu Mario. Lemang dan panggelong dari Simaninggir. Demikian juga huta-huta yang lain tetap menonjolkan produk andalan masing-masing yang menjadi hak paten mereka. Meski tak dipatenkan.

Tentu, semua kebanggaan itu merupakan kifrah kreativitas era pra-modern yang telah mewujud jadi kenangan.  Meski buku ini dengan apik menorehkan racikan-racikan daya cipta Sipirok dan sekitarnya, ketidakberdayaan sejarah terlihat saat tersisihnya nilai-nilai kreatvitas yang kurang terproteksi kearifan pemerintah. Biasanya, daya cipta akan tumbuh subur saat mendapat semacam honorarium (penghormatan) atas hasil kreasi tersebut. Realitanya, tidak demikian.

Lihat saja nasib pengrajin periuk tanah ini yang tergerus modernisasi kalah bersaing dari periuk loyang dan almanium. Padahal, jika berangkat dari kepedulian sesama—seperti saran penulis buku ini—bukankah periuk tanah, tembikar dan sebagainya itu, bisa menjadi komoditas khas (tradisional) yang market-nya relevan pada hotel-hotel yang sudah tumbuh di sekitar kawasan Sipirok dan menjadi souvenir istimewa di kawasan wisata di sana?

Sayangnya, semua komoditas itu, mengukir tragisme. Mengutip istilah Tulang Makruf Siregar: “Lomlom!” (hitam kelam) seperti pantat peruk tanah ….(hehehe). “Jika tidak ingin ‘lomlom’, yah…: Bina! Kembangkan serta ramu dengan kreasi dan inovasi baru,” (halaman 20).

Lantas, di mana letak “Narittik Sahorong” (Gila Selorong-Sekampung) yang menjadi judul buku ini? Istilah gila, harapan saya, semoga tidak merujuk pada makna kata. Logikanya, justru pada arti kiasan yang menurut hemat saya lebih pada padanan “ke-luarbiasa-an” orang Paranpadang. Luar biasa dalam ide dan gagasan. Luar biasa soal keberanian perwujudan daya cipta dan kreativitas.

Keluarbiasaan itu tercermin dari kebersamaan membangun irigasi. Membangun sarana perhubungan darat seperti jalan. Ide menciptakan alternatif bahan bakar minyak tanah, membangun pabrik rokok, mencipta karya seni khas Paranpadang berupa “parrude-rude”, sampai pada keperkasaan wanita dan jejanda dalam mengharungi kompetisi hidup. Menghidupi rumah tangga mengganti peran suami yang telah “dipanggil” Allah swt. Atau tragedi pembantaian “politik” pra-Soeharto di peristiwa G30S PKI.

Dari paparan kisah-kisah inspiratif buku ini, wajar jika kemudian buku ini mengambil angel: Narittik Sahorong. Meski terkadang materi bahasannya hanya seputar sosok seorang guru. Toh, profil guru yang diketengahkan condong pada aspek pendidik untuk digugu. Cerdas sebagai pengajar, berwawasan sebagai pusat informasi pengganti media yang enggan hadir dengan aktualitas berita di sana, kala itu.

Artinya, akan lebih mafhum dan lebih sayang jika sudah kenal. Kenali, dan bacalah buku ini. Bagi saya, yang sejak kecil selalu diceritai tentang kepintaran orang Sipirok, buku ini adalah legitimasi tambahan atas cerita masa kecil saya itu. Intinya, penulis buku ini (Tulang Makruf Siregar), satu dari orang-orang cerdas milik Huta Paranpadang.

Harapan saya promosi dan sosialisasi buku ini bisa lebih sempurna dilakukan penerbit. Paling tidak, buat komunitas Siregar dari Sipirok yang jumlah populasinya bisa membuat Pekanbaru sepi, jika mereka serentak pulang kampung. Itu baru di Pekanbaru. Apalagi di Medan & Jakarta?

Lebih dari itu, buku ini tampaknya turut mendukung premis yang diungkapkan politisi wanita Amerika, Helen Keller: “Orang berpendidikan adalah orang yang mengerti banyak tentang kehidupan yang dijalaninya”.

Paranpadang, dan segelintir orang-orangnya, seperti kisah buku ini, adalah bagian dari ungkapan Helen Keller itu. Mungkin saja! (Wahyudi El Panggabean)

Sekilas tentang Makruf Siregar:

Dilahirkan di Paranpadang, 20 Mei 1955. Usia bisa memasuki nyaris angka 60, toh wajah Makruf Siregar-anak ni “parjagal tape” ini, tampak lebih belia dari usianya. Masih energik dan gagah.

Makruf Siregar

Makruf Siregar

Menjalani pendidikan formal dari SR (Sekolah Rakyat) sampai SMA di Sipirok. Meraih gelar Ir. (sarjana perikanan) dari Universitas Riau dan gelar Magister dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Menjadi abdi negara sekitar 20 tahun di Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Riau. Sekitar 7 tahun mengabdi di Badan  Pengelola Dampak Lingkungan (Bapedal) Provinsi Riau.

Pasca pensiun dari birokrasi Makruf Siregar tetap mencurahkan ilmunya sebagai pengajar di Fakultas Perikanan UR (Universitas Riau) dan STIKES Hang Tuah, Pekanbaru. Aktif di Fordas (Forum Daerah Aliran Sungai) Riau. Menjadi pengurus Masjid Al-Hayah Perum. Taman Dutamas, Desa Tanah Merah, Siak Hulu  sekitar tempat tinggalnya menetap sekarang.

Makruf Siregar, penulis buku produktif ini, malah sering diundang sebagai penceramah bidang lingkungan, baik di Riau, nasional dan bahkan luar negeri, khususnya di Universitas Kebangsaan Malaysia. Di kalangan komunitas lingkungan gelarnya lebih populer dari anak ni “parjagal tape”. Para koleganya lebih akrab menyapanya: “Tulang Regar Servis Dinamo”. (wep)