BUKU WARTAWAN

Judul     : Wartawan Berani Beretika Penulis : Wahyudi El Panggabean Penerbit: Buku FORUM Harga    : Rp 75.000,- (Diluar ongkos kirim) Ukuran  : 15 + 220 Halaman; 18 cm x 24 cm

Judul : Wartawan Berani Beretika
Penulis : Wahyudi El Panggabean
Penerbit: Buku FORUM
Harga : Rp 75.000,- (Diluar ongkos kirim)
Ukuran : 15 + 220 Halaman; 18 cm x 24 cm

STRATEGI JITU MENGHADAPI WARTAWAN

CARA MUDAH JADI WARTAWAN PEMBERANI

Sebuah buku, yang ditulis seorang wartawan senior dengan fungsi ganda: strategi jitu menghadapi wartawan sekaligus strategi mudah menjadi wartawan.

SUATU hari, saya ditelepon seorang pejabat intansi teknis bidang kebinamargaan. Sebagai seorang teman ia mengajak “coffe-morning”. Saya memenuhi permintaannya. Padahal, setahu saya, kalaulah tidak ada hal urgen menyangkut perihal jurnalistik, teman itu tidak harus mengundang saya berbincang di tempat khusus. Artinya, ini sesuatu yang serius.

Di sebuah restoran di sudut Kota Pekanbaru, perbincangan kamipun berjalan santai di pagi Ahad yang cerah itu. Walau sesekali, gelak tawanya lepas, memecah ruangan, saya menyadari, sang Pejabat menyembunyikan keluhan. Keluhan itu, tentu saja, yang membuatnya “perlu” mengundang saya hadir di sana.bukuku

“Saya sangat terbebani, Pak!”  katanya mengawali tofik baru perbincangan. Masalah kronis. Problema, yang dihadapinya setiap saat. Setiap hari kerja. Persoalan yang muncul tanpa memilih tempat dan batas waktu. Malah, saat beristirahat dengan keluarga—di hari libur, tengah bersantai—masalah itu muncul juga. Lebih sering, muncul mendadak. Langsung atau via telepon seluler-nya. Ihwal apa gerangan? .

Langsung saja ke inti persoalan. Si Pejabat, bercerita seputar ulah para kuli tinta yang sering mendatanginya.  Yang membuatnya merasa gerah dan jengkel, tentulah ulah oknum para wartawan ini. Mereka tampaknya, tidak sekadar ingin meminta konfirmasi. Atau sekadar ingin berwawancara perihal pekerjaan si Pejabat. Katakanlah meminta penjelasan pembangunan jalan atau jembatan yang menjadi wilayah kewenangannya.

Masalahnya, ulah para oknum wartawan nakal ini, memang benar-benar menjengkelkannya. Menjengkelkan, karena selalu berujung pada duit. “Ujung dari semua pembicaraan, mereka meminta uang,” katanya. Sebagai seorang yang sudah puluhan tahun menekuni dunia pers saya meminta dia agar berperang meelawan wartawan nakal. Sebab, persoalan yang dihadapi si Pejabat itu merupakan persoalan umum yang dialami masyarakat kita, saat ini.

Intinya, saya kemudian memberikan pelatihan kilat crash program tentang ilmu bagi si Pejabat dan para stafnya yang bertanggungjawab terhadap proyek. Dengan bekal ilmu jurnalistik si Pejabat dan stafnya, bakal siap tempur menghadapi pasukan “wartawan bodrek”. Pelatihan berjalan secara efektif selama 1 pekan. Sukses!

Semenjak pelatihan wartawan di Lembaga Pendidikan Wartawan Pekanbaru Journalist Center itu, si Pejabat dan para stafnya tidak pernah lagi takut menghadapi wartawan. Malah, mereka mendebat “wartawan nakal” dengan membicarakan kode etik jurnalistik, hukum pers sampai ke soal menulis berita. Tak pelak, para wartawan nakal itupun kalah perang. Tidak lagi mendatangi mereka, kecuali untuk kepentingan wawancara dan meminta konfirmasi secara baik-baik. Tak berani lagi menggertak, seperti sebelumnya.

Dari pelatihan jurnalistik itu pula,  saya terinsfirasi menulis buku ini. Jadi, tanpa ikut pelatihan jurnalistik seperti mereka,  Anda bisa mendapat ilmu strategi menghadapi wartawan sekaligus ilmu strategi mudah menjadi wartawan. Anda cukup membeli buku ini. Buku ini menyajikan secara lengkap semua syarat yang diminta untuk menjadi wartawan hebat dan berani. Dengan mempelajari buku ini saja, Anda sudah bisa menjadi seorang wartawan yang andal. Percayalah! Yang penting, setelah mempelajari buku ini,  Anda siap tempur!

Sebab, sesuai peribahasa Latin: si vis pacem para bellum (jika ingin damai, persiapkan perang) mengungkapkan hubungan erat antara perang dan damai. Ini penting untuk menilai arti dan peran menentukan angkatan perang yang kuat. Kenapa demikian? Kekuatan dapat mencegah perang, kelemahan mengundang penyerangan.

Kutipan itu, punya korelasi dengan setiap aspek kehidupan. Termasuk dalam hal menghadapi wartawan. Modal utamanya adalah kekuatan. Anda harus benar-benar kuat. Kekuatan itu muncul bila Anda memiliki ilmu strategi menghadapinya, dengan segala pemahaman terhadap dunia wartawan secara utuh. Saat berposisi sebagai narasumber, Anda harus  memiliki ilmu berkomunikasi yang mapan dengan wartawan agar Anda berhasil menghadapinya. Tanpa firiksi, tanpa rasa takut.

Kata “menghadapi” dalam judul tulisan ini bukanlah semata-mata terfokus pada pengertian makna kata. Tetapi, lebih pada pengertian kemampuan berkomunikasi dengan baik antara sumber berita dengan wartawan. Dengan demikian, pengertian judul buku ini bisa disederhanakan lagi. Yakni, metode berkomunikasi yang baik dengan wartawan.

Keberhasilan menghadapi wartawan, berarti keberhasilan mendukung kewajiban memenuhi informasi untuk kepentingan publik. Strateginya, semata-mata untuk melayani wartawan yang benar-benar bertugas pada batasan etik mereka. Selain itu, buku ini juga dilengkapi metode menghadapi wartawan yang  bersikap di luar koridor kode etik mereka. Sebab, di satu sisi, kecenderungan pertumbuhan kuantitas pers merupakan beban internal yang belum terantsifasi oleh sisi kualitasnya. Dugaan merebaknya penyalahgunaan kode etik jurnalistik sering mewujud sebagai benturan antara  perilaku “wartawan nakal” dengan narasumber.

Jika narasumber tidak memiliki strategi khusus menghadapi wartawan demikian, dikhawatirkan friksi (benturan) antara sumber berita—sebagai bagian masyarakat—dengan profesi pemburu informasi ini, condong mengalami eskalasi. Tampaknya, berbagai kasus yang mengemuka akhir-akhir ini, baik soal pemerasan wartawan maupun tindak kekerasan diduga lahir dari situasi itu.

Jika kondisi  ini tetap terbiarkan, niscaya bukan hanya merugikan si Wartawan dan si Narasumber. Tetapi, kerugian terbesar—sebagai dampak persoalan tersebut—justru di pihak masyarakat yang tentunya, akan kehilangan informasi, karena  gagal diburu si Wartawan. Kenyataan inilah yang kerap tidak disadari.

Masalahnya, para pemangku profesi wartawan,  tidak pula terbebas dari trik penyalahgunaan profesi. Sering juga seorang wartawan yang berencana menemui narasumber, tidak memiliki ittikad baik seperti yang dibatasi kode etik jurnalistik. Di pihak lain, si Narasumber yang dihubungi misalnya, telah pula “dihantui” rasa bersalah  tentang perihal yang dimintai konfirmasinya oleh si Wartawan. Dalam situasi begini, sesungguhnya, bukan waratwan dan narasumber yang berkomunikasi. Tetapi, ittikad buruk dan kekhawatiran yang bertemu. Kontradiksi demikain inilah, yang diduga berpeluang melahirkan “benturan”.

Ada  beragam penyebab yang menimbulkan tetrjadinya  friksi wartawan dengan narasumber atau masyarakat. Toh, masing-masing pihak punya dalih pembenaran yang beragam pula.  Namun, jika persoalan telanjur membesar dan berujung pada tindakan kekerasan—ibarat kobaran api—sudah sulit memadamkannya. Untuk itu,  buku ini tetap menganut teori klasik: Lebih baik mencegah ketimbang mengobati. Intinya, strategi buku ini,  lebih menukik pada pencegahan.

Lepas dari itu, mesti diingat, benteng terkuat ada pada moral dan sikap Anda sendiri sebagai warga negara yang memikul tanggung jawab apapun dalam pekerjaan, tugas serta profesi yang Anda jalani. Sebaiknya, tidak bertahan pada pekerjaan yang salah. Sekaligus menutupi kesalahan itu dari mata publik. Sebab, wartawan, hakikatnya bukan berkewajiban menyembunyikan kesalahan seorang narasumber.

Buku ini, tidak akan membahas strategi licik untuk mengelabui wartawan dari celah informasi kemudian bersiasat memupuk perilaku bejat seorang narasumber. Buku ini hanya menawarkan strtagi jitu menghadapi wartawan berikut  cara-cara intlek dan profesional. Profesionalisme itu mencakup pemahaman tentang jurnalisme. Pemahaman tentang undang-undang pers dan kode etik jurnalistik merupakan syarat mutlak. Meskipun Anda bukan seorang wartawan, Anda wajib memahami kedua hal itu. Ini syarat utama.

Di luar itu Anda perlu mengetahui profil si Wartawan yang menemui Anda. Mulai dari tingkat pendidikannya, tipe wartawannya, dari media mana dia berasal, apa motivasinya. Apakah memang dia benar-benar ingin sebatas meminta konfirmasi saat menemui Anda? Atau dia memiliki motivasi lain?  Tanpa pemahaman itu semua, niscaya Anda tidak memiliki modal yang bisa dijadikan strategi  guna menghadapi wartawan. Buku ini membahas tentang semua masalah itu.

Sebagai seorang yang telah menekuni profesi wartawan lebih 28 tahun, saya menaruh harapan besar mewujudnya misi mulya buku ini sebagai sumbangsih  membangun hubungan sesama. Kehidupan akan lebih berarti jika harmoni terjalin abadi pada setiap derap langkah aktivitas di setiap lini kehidupan masyarakat. Yang pada akhirnya menciptakan kesejahteraan, kedamaian, ketenangan bagi kita semua, untuk berkarya.

 Pesan buku ke: wahyudielpanggabean@gmail.com

Atau hubungi: 085365003829